Lima Tahun Pasca-Seroja: Siswa Lakatuli Bertaruh Nyawa Menyeberang Sungai demi Sekolah, Di Mana Pemerintah?

ALOR, NTT, Jurnal09.com – Pendidikan sering disebut sebagai jembatan menuju masa depan, namun bagi para siswa di Desa Lakatuli, Kecamatan Mataru, Kabupaten Alor, jembatan yang sesungguhnya telah raib ditelan arus sejak lima tahun lalu. Hingga hari ini, janji pembangunan kembali infrastruktur yang hancur akibat Siklon Tropis Seroja seolah ikut hanyut dan terlupakan oleh Pemerintah Daerah.

Setiap pagi, pemandangan memilukan terjadi di pinggiran sungai yang memisahkan Desa Lakatuli dengan pusat pendidikan di Mataru Selatan. Siswa SMP Negeri 1 Mataru dan SMA Negeri Mataru terpaksa harus bertarung nyawa, menerobos derasnya arus sungai menggunakan perahu kayu sederhana demi bisa duduk di bangku kelas.

Jembatan permanen yang dulunya menjadi urat nadi akses warga dan pelajar hanyut diterjang banjir bandang saat bencana Siklon Seroja melanda. Sejak saat itu, akses utama menuju sekolah terputus total. Tidak ada jalan alternatif. Pilihannya hanya dua: bertaruh nyawa menyeberang air atau putus sekolah.

“Tidak ada jalur lain. Satu-satunya cara adalah melawan rasa takut dan menyeberangi sungai dengan perahu kayu,” ungkap Anton salah satu guru di SMA Negeri Mataru dengan nada getir, saat konfirmasi via telepon

Baginya dan rekan sejawatnya, melihat siswa basah kuyup atau ketakutan saat arus sungai meningkat adalah makanan sehari-hari. Ironisnya, kondisi “darurat” ini telah berlangsung selama setengah dekade tanpa ada intervensi serius dari pemerintah.

Kondisi ini memicu kritik tajam terhadap prioritas pembangunan Pemerintah Kabupaten Alor. Bagaimana mungkin akses menuju dua sekolah menengah (SMP dan SMA) dibiarkan lumpuh selama lima tahun?

Para siswa di Lakatuli bukan sekadar butuh kurikulum yang baik, mereka butuh kepastian keselamatan untuk sampai ke sekolah. Menggunakan perahu kayu di tengah arus sungai yang tidak terduga bukanlah solusi, melainkan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa mengancam nyawa anak-anak bangsa.

Ketidakhadiran negara dalam menyediakan akses infrastruktur dasar di Mataru adalah potret buram pemerataan pembangunan di wilayah pelosok NTT. Masyarakat kini tidak lagi sekadar meminta, tapi menuntut hak mereka sebagai warga negara.

“Kami berharap pemerintah daerah segera membuka mata. Jangan tunggu ada korban jiwa baru sibuk membangun. Ini adalah akses pendidikan, masa depan anak-anak kami ada di sini,” tegasnya mewakili keresahan warga dan para guru.

Hingga berita ini diturunkan, warga Desa Lakatuli masih terus berjibaku dengan arus sungai. Mereka hanya bisa menggantungkan harapan pada hati nurani para pengambil kebijakan di kabupaten agar jembatan di Mataru segera dibangun kembali sebelum arus banjir berikutnya datang membawa ancaman yang lebih besar. Red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *