JAKARTA, Jurnal09.com – Presiden Prabowo Subianto menyimpan strategi politik jitu di balik perombakan kursi Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri). Pemindahan Jenderal Listyo Sigit Prabowo ke posisi Kepala Staf Kepresidenan (KSP) bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan manuver taktis untuk “mengurung” potensi gangguan stabilitas politik.
Penilaian tajam ini disampaikan oleh mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD. Menurutnya, langkah Prabowo menempatkan Listyo Sigit di lingkaran Istana merupakan bentuk kecerdikan politik untuk merangkul sekaligus mengendalikan figur kunci agar tidak bergerak di luar kendali pemerintahan.
“Menurut saya cerdik Prabowo, dikurung. Karena kalau dilepas di luar, itu kan bisa berbahaya. Artinya bisa mengganggu lah. Bahaya sih enggak, tapi bisa mengganggu. Kurung saja di sini,” ujar Mahfud MD dalam tayangan kanal YouTube pribadinya, Rabu (7/10/2026).
Mahfud menyoroti posisi KSP yang secara fungsional tidak diatur dalam konstitusi. Penempatan Listyo Sigit bersama sejumlah perwira tinggi bintang tiga lainnya di lembaga non-konstitusional tersebut dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas nasional. Tujuannya, meminimalisasi dorongan politik yang berseberangan dengan kebijakan Istana.
Pergantian Kilat dan Operasi Senyap
Pergantian pucuk pimpinan Korps Bhayangkara itu sendiri berlangsung dalam situasi mendadak dan penuh kerahasiaan. Mahfud mengungkapkan, prosesi pergantian Kapolri sengaja dilakukan secara tertutup hingga saat-saat terakhir untuk mengantisipasi tekanan atau intervensi politik yang berulang kali menggagalkan rencana serupa sebelumnya.
“Buktinya Listyo masih ikut acara di Lubang Buaya bersama Presiden. Lalu ketika dia diberi kabar bahwa dia akan diganti, dia sedang ada acara. Diberitahu begitu, artinya mendadak,” jelas Mahfud.
Ia menjelaskan, rencana penggantian Kapolri sebenarnya telah beberapa kali mengemuka, namun selalu kandas di tengah jalan akibat dinamika politik elite. Kondisi ini mendorong Presiden Prabowo mengambil taktik berbeda dengan tidak membocorkan rencana tersebut sejak awal.
“Sehingga kesimpulannya, ini kalau dibicarakan panjang-panjang dan ramai, enggak jadi terus. Makanya pemberitahuannya mendadak tanggal 1, jangan sampai berulang tiga kali sebelumnya yang selalu gagal,” tambahnya.
Langkah kilat itu terekam jelas. Pengiriman surat ke DPR RI hingga pelaksanaan uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) terhadap calon Kapolri baru, Jenderal Suyudi Ario Seto, diselesaikan hanya dalam hitungan jam usai upacara peringatan di Lubang Buaya.
Sinyal Kemerdekaan Prabowo
Lebih jauh, Mahfud menilai reshuffle yang mengganti Kapolri dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno dari kabinet merupakan pesan kuat bahwa Prabowo ingin menegaskan independensi dan ketegasannya dalam mengendalikan roda pemerintahan.
“Saya juga cukup memahami bahwa langkah reshuffle mengganti Kapolri dan Pak Pratikno dari kabinet ini dianggap sebagai bagian penting dari upaya Prabowo menegaskan sikapnya sebagai seorang pemimpin yang mandiri,” terang Mahfud.
Dengan penempatan Listyo Sigit di KSP, pemerintah berharap stabilitas keamanan nasional tetap terjaga, sementara potensi manuver politik dari eks Kapolri tersebut dapat diminimalisasi secara efektif.
(Admin)