Jakarta – Jurnal09.com – Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan dukungan penuh kepada Sari Yuliati untuk memimpin Kosgoro 1957 dalam Musyawarah Besar (Mubes) V Tahun 2026 yang berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Jakarta.
Pasca suksesnya penyelenggaraan Musyawarah Besar (Mubes), Pimpinan Daerah Kolektif (PDK) Kosgoro 1957 Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menegaskan komitmen penuhnya untuk mengawal kepemimpinan Ketua Umum terpilih yang baru. Kosgoro DIY menyatakan siap merapatkan barisan guna mewujudkan visi, misi, dan program kerja organisasi selama lima tahun ke depan.
Ketua PDK Kosgoro 1957 DIY, Erwin Nizar menyampaikan bahwa tugas kader di daerah tidak berhenti setelah berhasil menghantarkan Ketua Umum baru ke pucuk pimpinan. Sebaliknya, tantangan sesungguhnya adalah memastikan roda organisasi berjalan efektif melalui kepengurusan definitif yang solid.
”Kami yang di daerah menyambut dengan sangat baik. Tugas kita sekarang adalah mengawal beliau dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai Ketua Umum. Jangan sampai setelah berhasil menghantarkan, beliau kita lepas begitu saja,” ujar Erwin saat selesai pemilihan Ketua Umum.
Mengingat dinamika kontestasi telah usai, Erwin mengimbau seluruh kader untuk menyudahi perbedaan pandangan dan kembali fokus pada esensi organisasi. Menurutnya, masa bakti kepengurusan Kosgoro 1957 DIY saat ini berjalan untuk periode 2022–2027, dan agenda Musyawarah Daerah (Musda) wajib dilaksanakan tahun depan tanpa tawar-menawar sesuai dengan periodisasi organisasi.
Sebagai salah satu Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) pendiri Partai Golkar, Kosgoro 1957 disadari memiliki tanggung jawab moral, sejarah, dan politik yang jauh lebih besar. Konsolidasi internal Kosgoro 1957 secara otomatis menjadi bagian penting dalam strategi membesarkan Partai Golkar ke depan.
Menghadapi tantangan ekonomi saat ini, Kosgoro 1957 DIY akan mengarahkan fokusnya pada khittah perjuangan awal organisasi, yaitu ekonomi kerakyatan dan koperasi.
”Akar gerakan kita adalah ekonomi kerakyatan dan koperasi. Tugas mendesak kita saat ini adalah melakukan penguatan ke dalam—memberdayakan internal kita terlebih dahulu agar tangguh dan tidak terdampak situasi ekonomi, baru kemudian kita melebar dan memberikan dampak nyata kepada masyarakat luas,” Imbuh Erwin.
Erwin juga mengingatkan kembali sejarah luhur berdirinya Kosgoro (Koperasi Serbaguna Gotong Royong) yang diinisiasi oleh para pejuang Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Gerakan ini lahir sebagai bentuk “balas jasa” kepada rakyat yang dahulu dengan sukarela menampung dan membantu para pejuang saat bergerilya.
”Ketika merdeka, para pendiri membalik peran itu dengan gantian membantu rakyat melalui wadah koperasi. Nilai gotong royong inilah yang harus kita jaga. Seluruh pengurus di Indonesia harus bergerak serentak, dimulai dari penataan organisasi melalui rangkaian Musda tahun depan,” tuturnya.
Tentang Kosgoro 1957:
Kosgoro 1957 (Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong) adalah organisasi kemasyarakatan yang berbasis pada semangat gotong royong dan ekonomi kerakyatan. Sebagai salah satu dari tiga ormas pendiri (Trisila) Partai Golkar, Kosgoro 1957 terus berkomitmen dalam pembangunan nasional, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan penguatan pilar-pilar politik di Indonesia. (Edo)
