Jakarta, Jurnal09.com – Memasuki bulan ketiga di tahun 2026, nestapa warga RW 01 Kelurahan Kembangan Selatan, Jakarta Barat, seolah tak kunjung usai. Tercatat, sejak awal Januari hingga Maret ini, wilayah tersebut sudah tiga kali diterjang banjir besar dengan ketinggian air mencapai puncaknya hingga 2 meter.
Kondisi ini memicu kemarahan warga yang menilai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun pemerintah kota setempat tidak serius dalam menangani akar permasalahan banjir di wilayah mereka.
Penyebab utama banjir yang berulang ini disinyalir kuat akibat Normalisasi Kali Angke yang tidak berjalan maksimal. Proyek yang seharusnya menjadi tumpuan warga justru terkesan mangkrak dan tidak tuntas.
Selain itu, masifnya pembangunan gedung dan bangunan baru di sekitar Kembangan Selatan dituding menjadi biang keladi. Banyak bangunan berdiri tanpa memperhatikan sistem drainase yang mumpuni, sehingga aliran air tersumbat dan langsung meluap ke pemukiman warga saat hujan deras mengguyur.
Bagi warga RW 01, banjir bukan sekadar genangan air, melainkan ancaman ekonomi. Setiap kali air masuk setinggi 2 meter, warga harus merelakan perabotan rumah tangga, alat elektronik, hingga dokumen penting rusak dan hilang terseret arus.
“Kami sudah lelah. Barang habis rusak semua, padahal baru saja dicuci dan dibersihkan dari banjir bulan lalu. Sekarang terulang lagi. Kerugian kami tidak sedikit, tapi bantuan nyata tidak ada,” keluh salah satu warga terdampak dengan nada kecewa.
Kekecewaan warga memuncak saat melihat respon para pejabat setempat. Alih-alih membawa solusi teknis atau kebijakan konkret, kehadiran aparat pemerintah di lokasi banjir dinilai hanya sebatas formalitas belaka.
Warga menyebutkan bahwa peninjauan yang dilakukan seringkali hanya dimanfaatkan untuk kepentingan dokumentasi dan foto-foto di lokasi, tanpa ada tindak lanjut yang nyata setelah air surut.
“Pemerintah sering datang, tapi cuma lihat-lihat terus foto. Setelah itu hilang. Kami tidak butuh kehadiran mereka untuk difoto, kami butuh Kali Angke dikeruk total dan bangunan liar yang menutup drainase ditindak tegas!” ujar warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih berjaga-jaga di pengungsian sementara, menunggu debit air Kali Angke menurun, sembari berharap ada langkah nyata dari pemerintah agar banjir ini tidak menjadi agenda rutin yang menyengsarakan mereka sepanjang tahun 2026. Red

