Diduga Salah Paham Berujung Kekerasan, Teguran Soal ‘Ngebut’ Picu Aksi Tampar dan Gigitan

Sumbawa Besar NTB  , Jurnal09.com

Minggu, 8 Februari 2026, suasana sebuah lingkungan organisasi yang sangat panas. Peristiwa yang bermula dari teguran soal cara berkendara, diakhiri dengan aksi tampar, pitingan, hingga gigitan di halaman rumah warga.

Insiden bermula saat ROFINUS KAKA baru pulang dari mengojek. Setibanya di rumah, ia mendapati putranya, FEBY, bersama beberapa rekannya tengah duduk di teras sambil mengonsumsi minuman keras jenis moke.

Tak lama berselang, anak laki-lakinya, JEREMYAS alias JEMY, tiba dari membeli rokok.

Sebelumnya, saat melintas di depan rumah HERONIMUS TULASI dengan sepeda motor Honda Vario hitam, JEMY ​​disebut melaju kencang. HERONIMUS TULASI menegur keras, “Woi Jem, pelan-pelan, jangan ngebut!” Teguran itu sempat membuat JEMY ​​berhenti dan menoleh, namun kemudian kembali tancap gas menuju rumahnya.

*Merasa tak digubris, HERONIMUS TULASI berinisiatif mendatangi rumah JEMY*

Ia meminta bantuan seorang warga, NIVEN, yang kebetulan melintas menggunakan sepeda motor Jupiter merah, untuk mengantarnya ke lokasi.

Setibanya di halaman rumah JEMY, HERONIMUS TULASI turun dan berjalan masuk ke pekarangan sambil berkata, “Om tolong mengajar cucu.” Namun situasi panas berubah ketika ia langsung menghampiri JEMY ​​dan menampar pipi kanan pemuda tersebut.

Melihat ketukannya, ROFINUS KAKA datang dan mengambil tindakan itu. “Apa-apa ini pak? Kenapa pukul anak saya?” tanyanya.

*HERONIMUS TULASI menjawab bahwa JEMY ​​ngebut dan hampir menyerempet dirinya*.

Adu mulut pun tak terhindarkan. ROFINUS KAKA menantang, “Pukul saya, pukul saya!” sambil mendorongkan badan ke arah HERONIMUS TULASI.

Dalam situasi panas, HERONIMUS sempat menghadang dan memmiting ROFINUS. Namun ROFINUS berhasil melepaskan diri dengan pemberontakan.

Warga yang berada di lokasi berusaha melerai. Tetapi emosi yang sudah memuncak membuat ROFINUS kembali maju dan menggigit lengan kanan HERONIMUS TULASI.

Aksi tersebut akhirnya dihentikan setelah FEBY dan seorang rekannya, RIAN, menarik ROFINUS menjauh dari lokasi.

HERONIMUS TULASI kemudian dibawa pulang oleh warga sekitar untuk menghindari bentrokan lanjutan.

Peristiwa ini menjadi potret buram bagaimana teguran sederhana soal keselamatan bisa berubah menjadi konflik fisik,

Di tengah lingkungan yang seharusnya menjunjung nilai kekeluargaan, emosi saat itu justru memperkeruh keadaan.

Kini, sorotan menyoroti upaya penyelesaian yang adil dan bijak agar kejadian serupa tak kembali terulang.

( Rico Ray )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *