Jakarta, Jurnal09.com – Siapkan payung dan jas hujan Anda lebih ekstra. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan mengepung wilayah Indonesia hingga awal pekan depan. Fenomena Monsun Asia menjadi aktor utama di balik meningkatnya intensitas hujan belakangan ini.
Monsun Asia Masih ‘Betah’ di Indonesia
Berdasarkan rilis Prospek Cuaca Mingguan periode 10–16 Februari, BMKG mencatat bahwa angin dari Benua Asia ini masih akan mendominasi atmosfer Tanah Air.
“Monsun Asia diprakirakan masih akan memberikan pengaruh kuat terhadap kondisi cuaca di Indonesia, paling tidak hingga dasarian kedua Februari,” tulis BMKG.
Dampaknya tidak main-main. Wilayah Indonesia bagian selatan diprediksi akan mengalami lonjakan curah hujan yang signifikan. Masyarakat diimbau waspada terhadap potensi banjir dan longsor di titik-titik rawan.
Bukan hanya faktor lokal, kondisi global pun sedang tidak “tenang”. BMKG menyoroti adanya aktivitas El Niño-Southern Oscillation (ENSO) yang kini berada pada fase La Niña Lemah.
Berikut adalah detail indikator teknis yang memicu cuaca basah tersebut:
- Indeks SOI: Tercatat di angka +11.6.
- Indeks Niño 3.4: Berada pada level −0.75.
Kombinasi angka-angka ini menjadi sinyal kuat meningkatnya aktivitas konvektif—proses pembentukan awan hujan—terutama di kawasan Timur Indonesia. Artinya, selain wilayah selatan, saudara-saudara kita di bagian timur juga harus bersiap menghadapi langit mendung dan hujan deras yang persisten.
Hingga awal pekan depan, dinamika atmosfer dari skala global hingga lokal masih akan sangat dominan. BMKG menyarankan warga untuk terus memantau pembaruan cuaca melalui aplikasi InfoBMKG guna menghindari risiko bencana hidrometeorologi. Red

