Catatan Irwanto Messa,
SUMBAWA- Jurnal09.com, Ada masa ketika pena lebih ditakuti daripada kekuasaan. Hari ini, di sebagian tempat, yang terjadi justru sebaliknya. Bukan karena pena kehilangan tinta, melainkan karena sebagian hati nurani mulai kehilangan keberanian.
Jurnalis adalah pilar keempat demokrasi. Tugasnya bukan menjadi penyambung lidah penguasa, bukan pula menjadi kepentingan humas. Ia hadir untuk mengawasi, mengkritisi, dan memastikan bahwa kekuasaan tetap berjalan sesuai hukum dan kepentingan rakyat.
Namun, ketika kepentingan mulai menyandera profesi, yang pertama kali tumbang adalah integritas. Berita tidak lagi lahir dari fakta, melainkan dari pesanan. Keberanian menggantikan rasa takut kehilangan kedekatan. Kritik berubah menjadi pujian yang membungkus pencitraan.
Lebih buruk lagi, kompetensi yang seharusnya menjadi mahkota seorang jurnalis justru menawarkan. Sertifikat dipajang, tetapi independensi ditinggalkan. Etika dihafal, tetapi tidak dijalankan. Ruang redaksi berubah menjadi ruang kompromi, tempat idealisme ditukar dengan kenyamanan.
Pers yang kehilangan kemerdekaan tidak lagi menjadi benteng demokrasi. Ia hanya menjadi cermin yang memantulkan apa yang ingin dilihat penguasa. Padahal rakyat membutuhkan cermin yang jujur, bukan cermin yang sengaja dipol untuk menutupi merebut kembali kekuasaan.
Jangan pernah mengira masyarakat tidak mampu membedakan berita yang lahir dari keberanian dengan berita yang lahir dari kepentingan. Kepercayaan memang tidak runtuh dalam sehari, tetapi akan hancur sedikit demi sedikit setiap kali fakta disembunyikan dan kebenaran dibungkam.
Wartawan sejati tidak menjual pena. Ia menjual karya. Ia tidak menyewakan integritas demi fasilitas, jabatan, atau kedekatan. Sebab sekali hati nurani tergadai, tak ada penghargaan yang mampu mengembalikannya.
Negeri ini tidak kekurangan wartawan. Yang mulai langka adalah wartawan yang tetap berdiri ketika tekanan datang dari segala arah. Mereka yang memilih menjaga kehormatan profesi akan dikenang sejarah. Sebaliknya, mereka yang menjadikan profesi sebagai alat transaksi hanya akan menjadi catatan kelam dalam perjalanan pers Indonesia.
Pada akhirnya, musuh terbesar bukanlah kritik, melainkan hilangnya keberanian untuk berkata benar. Ketika pena berhenti membela kebenaran, saat itulah profesi ini benar-benar menjadi tawanan kepentingan.
*Kalimat penutup*
ย โJangan biarkan ruang redaksi berubah menjadi ruang transaksi. Sebab ketika pers memberitakan integritasnya, yang dibunuh bukan hanya kebenaran, tetapi juga masa depan demokrasi.โ
Sumbawa Besar NTB 18/07/2026
(Penulis Irwanto)
