Banjir Kembangan Selatan: Dari “Wisata Air” Dadakan Hingga Kritik Atas Lambannya Pemerintah

Jakarta, Jurnal09.com – Kawasan Kembangan Selatan kembali terendam banjir akibat curah hujan tinggi yang mengguyur ibu kota sejak beberapa hari lalu, Namun, ada pemandangan kontras di tengah musibah ini. Di satu sisi, genangan air dimanfaatkan warga sebagai “wisata air” dadakan, namun di sisi lain, warga mulai mengeluhkan lambatnya respon pemerintah dalam memberikan bantuan.

Melihat bantuan yang tak kunjung datang, Ketua RT 009 RW 01 Kembangan Selatan Hafiz Sahroni mengambil langkah inisiatif. Tanpa menunggu komando dari instansi terkait, ia mendirikan dapur umum mandiri tepat di area yang masih aman dari jangkauan air.

“Kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Perut warga tidak bisa diajak kompromi. Sampai siang ini, bantuan dari pemerintah belum terlihat tanda-tandanya, jadi kami swadaya saja,” ujar sang Ketua RT saat ditemui

Meski dalam kondisi prihatin, semangat gotong royong warga justru meningkat. Ibu-ibu di lingkungan RT 09 RW 01 tampak sangat antusias berjibaku dalam membantu korban banjir. Mereka bahu-membahu menyediakan minuman hangat untuk para korban banjir, terutama lansia dan anak-anak.

Foto Wawan

“Capek ya pasti, tapi kalau lihat tetangga belum makan, kita lebih sedih. Kami gotong royong pakai bahan makanan seadanya yang dikumpulkan dari warga yang masih punya stok,” ujar salah satu warga yang sibuk melayani korban banjir.

Fenomena unik juga terjadi di beberapa titik genangan yang cukup dalam. Sejumlah anak-anak hingga remaja tampak asyik berenang dan bermain ban bekas, seolah menjadikan banjir sebagai destinasi wisata air.

Meski tampak ceria, hal ini sebenarnya menjadi ironi bagi orang tua mereka. Warga merasa “terbiasa” dengan banjir yang berulang setiap tahun. Kebiasaan ini muncul diduga karena kekecewaan terhadap ketidaksigapan pemerintah dalam melakukan normalisasi saluran atau memberikan solusi permanen bagi wilayah Kembangan Selatan.

“Setiap tahun begini terus. Pemerintah seolah cuma menonton. Akhirnya ya begini, banjir malah jadi tempat main anak-anak karena mau mengadu pun prosesnya lambat,” cetus seorang warga dengan nada kecewa.

Hingga berita ini diturunkan, ketinggian air masih fluktuatif dan warga berharap pemerintah segera turun tangan, baik untuk menyalurkan bantuan logistik maupun melakukan langkah nyata penanganan banjir di masa depan. Red

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *