SUMBAWA BESAR, Jurnal09.com – Pemulihan pascabencana gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya menyangkut kebutuhan logistik. Kondisi psikologis para korban juga menjadi perhatian. Untuk itu, personel Polres Sumbawa bersama jajaran Polda NTB turun langsung memberikan pendampingan kepada warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur.
Kegiatan trauma healing tersebut dilaksanakan pada Jumat (21/8/2026) di Posko Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Pendampingan menyasar ratusan pengungsi, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak.
Tim yang diterjunkan merupakan gabungan personel SSDM Polda NTB dan personel Polres jajaran. Tim dipimpin Ipda Hari Ade Wibowo, S.Psi, yang menjabat Ps. Kasubbag Binkar Bag SDM Polres Sumbawa, bersama Briptu Muhammad Taruna Anshory Rahman dan Bripda M. Wira Arudziki, S.Psi, Bamin Bag SDM Polres Bima Kota.
Di tengah kondisi pengungsian, petugas memberikan pendekatan berbeda sesuai kelompok usia. Para orang tua mendapat pendampingan melalui metode konseling psikologis untuk membantu mengurangi kecemasan dan tekanan setelah mengalami bencana.
Sementara anak-anak diajak mengikuti play therapy atau terapi bermain. Melalui permainan edukatif, interaksi sederhana, serta pemberian sarana kontak dan hiburan, petugas berupaya menciptakan suasana yang lebih nyaman bagi anak-anak di lokasi pengungsian.
Kapolres Sumbawa AKBP Marieta Dwi Ardhini melalui Ipda Hari Ade Wibowo mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya kepolisian membantu masyarakat menghadapi dampak psikologis akibat bencana.
Suasana di Posko Waso semakin hangat ketika kegiatan tersebut turut mendapat kunjungan Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka. Dalam kunjungan itu, Wakil Presiden didampingi Waastamaops Polri Irjen Pol Laksana, S.I.K., Gubernur NTT, serta sejumlah pejabat tinggi negara.
Menurut Hari, kehadiran tim trauma healing bersama dukungan pemerintah pusat memberikan pengaruh positif terhadap kondisi para pengungsi, khususnya anak-anak.
“Anak-anak yang sebelumnya diliputi kecemasan kini tampak lebih ceria, berani kembali berinteraksi, serta merasa terhibur dan diperhatikan melalui ragam permainan edukatif,” ujar Ipda Hari.
Pendampingan psikologis tersebut diharapkan dapat membantu warga terdampak, khususnya anak-anak dan kelompok rentan, melewati masa sulit setelah gempa. Pemulihan mental dan emosional menjadi bagian penting agar para korban dapat kembali membangun semangat dan menjalani kehidupan pascabencana.
(Hps/Suci)