Jakarta, Jurnal09.com — Banjir yang kembali melanda RW 01 Kembangan Selatan, Jakarta Barat pada 23–24 Januari 2026 bukan lagi sekadar dampak hujan deras. Warga menuding Kali Angke yang mengalami pendangkalan parah, penyempitan alur, serta minim perawatan sebagai penyebab utama banjir berulang yang terus dibiarkan tanpa solusi nyata.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi Kali Angke dipenuhi sedimentasi lumpur, tumpukan sampah, serta vegetasi liar yang menghambat aliran air. Saat curah hujan tinggi, sungai tak mampu menampung debit air dan meluap ke permukiman padat penduduk di RW 01.
“Air naik cepat, kurang dari satu jam rumah sudah kemasukan air. Ini bukan pertama kali, tapi selalu dibiarkan,” ungkap salah satu warga dengan nada kecewa.
Warga menilai normalisasi Kali Angke hanya sebatas wacana Kegiatan pengerukan yang pernah dilakukan dinilai tidak menyeluruh dan terkesan tambal sulam. Akibatnya, setiap musim hujan, RW 01 kembali menjadi langganan banjir.
Ironisnya, di tengah kondisi sungai yang kritis, pembangunan gedung dan perumahan di sekitar bantaran kali terus marak Warga menduga, lemahnya pengawasan tata ruang membuat daerah resapan air semakin menyempit, sementara alur sungai tertekan oleh aktivitas pembangunan.
“Bangunan makin banyak, sungai makin sempit. Tapi yang kebanjiran kami, rakyat kecil,” kata warga lainnya.
Banjir yang terus berulang memunculkan dugaan kelalaian pemerintah daerah dalam mengelola sungai dan menegakkan aturan sempadan kali. Warga mempertanyakan komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam pengendalian banjir, khususnya di wilayah Kembangan Selatan yang selama ini jarang mendapat perhatian serius.
Warga RW 01 secara tegas mendesak normalisasi Kali Angke dilakukan secara total mulai dari pengerukan mendalam, pelebaran sungai, hingga penertiban bangunan yang melanggar garis sempadan.
“Kalau pemerintah terus diam, banjir ini akan jadi bencana permanen. Jangan tunggu korban jiwa baru bergerak,” tegas perwakilan warga.
Banjir di RW 01 Kembangan Selatan kini dipandang bukan lagi bencana alam semata, melainkan akumulasi kegagalan tata kelola lingkungan dan pembiaran pembangunan tanpa kontrol. Tanpa langkah tegas dan menyeluruh, Kali Angke berpotensi terus menjadi bom waktu bagi ribuan warga yang tinggal di sekitarnya. Red

