Jakarta Barat, Jurnal09.com – Polres Metro Jakarta Barat kembali menunjukkan bukti nyata kinerja di lapangan dalam pemberantasan narkotika dan obat berbahaya. Melalui Satuan Reserse Narkoba, Polres Metro Jakarta Barat berhasil membongkar clandestine lab atau pabrik produksi etomidate yang dikemas menyerupai cartridge rokok elektrik.
Penggerebekan dilakukan di sebuah rumah di kawasan perumahan elite PIK 2, Tangerang. Dari lokasi tersebut, polisi mengamankan seorang warga negara China berinisial CF (27) yang diduga berperan dalam produksi etomidate.
Kapolres Metro Jakarta Barat Kombespol Nasriadi menegaskan bahwa pengungkapan ini merupakan bukti nyata keseriusan jajaran Polres Metro Jakarta Barat dalam memberantas peredaran etomidate.
“Yang paling menjadi perhatian kita adalah banyaknya beredar cartridge etomidate yang mengandung narkotika yang sangat berbahaya. Dan kita, Polres Jakarta Barat, telah mengungkap pabriknya atau labnya untuk pembuatan etomidate tersebut untuk disebarkan di wilayah Indonesia,” kata Nasriadi.
Barang Bukti Nyata dari Clandestine Lab
Dari lokasi clandestine lab, polisi menemukan sejumlah barang bukti yang menunjukkan adanya aktivitas produksi, bukan sekadar penyimpanan atau distribusi. Barang bukti tersebut antara lain:
· 1.008 cartridge berisi etomidate yang disebut siap diedarkan;
· 12.000 cartridge kosong yang diduga disiapkan untuk diisi;
· 62 botol cairan sintetis;
· bahan perisa dengan berbagai rasa;
· 2.457 gram ganja;
· 165,15 gram sabu;
· 125,8 gram tembakau sintetis.
Menurut Nasriadi, bahan perisa yang ditemukan diperkirakan dapat diracik menjadi sekitar 20.000 cartridge etomidate.
“Kalau botol itu dibuat racik akan menghasilkan 20.000 cartridge etomidate, bayangkan, bisa menghasilkan 20.000 cartridge. Kemudian ada puluhan ribu cartridge kosong yang siap untuk dimasukkan cairan-cairan tersebut,” ujar Nasriadi.
Polisi memperkirakan nilai ekonomi barang yang berhasil dicegah beredar mencapai sekitar Rp120 miliar. Satu cartridge berukuran XXL disebut dapat digunakan oleh sekitar lima hingga 10 orang, dengan harga pasar mencapai Rp5 juta hingga Rp7 juta per cartridge.
Modus: Dikemas Menyerupai Rokok Elektrik
Salah satu temuan penting dalam pengungkapan ini adalah modus pengemasan etomidate yang dibuat menyerupai perangkat atau komponen rokok elektrik. Polisi menilai cara ini berpotensi membuat masyarakat tidak menyadari kandungan berbahaya di dalamnya.
“Etomidate ini, bila kita lakukan penyelidikan, harganya sekarang dengan yang size XXL, itu bisa digunakan 5 sampai 10 orang. Dan harganya, harga di pasaran sampai saat ini adalah Rp5 sampai dengan Rp7 juta satu,” jelas Nasriadi.
Operasi Nila Jaya 2026: 40.539 Obat Berbahaya Disita
Pengungkapan clandestine lab etomidate ini menjadi bagian dari Operasi Nila Jaya 2026 yang digelar jajaran Polres Metro Jakarta Barat selama 14 hari, mulai 9 September hingga 23 September 2026.
Selain kasus narkotika dan etomidate, polisi juga mengungkap peredaran obat-obatan berbahaya. Sebanyak 16 tersangka diamankan dari jajaran Polres maupun Polsek. Polisi menyita 40.539 butir obat berbahaya dari berbagai jenis, termasuk tramadol, olanzapine, dan obat lainnya. Polisi juga mencatat 14 laporan polisi dalam perkara tersebut.
Dalam salah satu perkara, polisi masih memburu tersangka berinisial AP yang masuk daftar pencarian orang (DPO). Dari pengungkapan di wilayah Cakung, Jakarta Timur, AP diduga berkaitan dengan kepemilikan sekitar 21.000 butir obat berbahaya.
Sementara dalam perkara narkotika dan etomidate, total terdapat 12 tersangka, terdiri atas 11 WNI dan satu warga negara China.
Jaringan Diduga Dikendalikan dari China
Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Barat AKBP Vernal Sambo mengatakan tersangka CF tidak bekerja sendirian. Masing-masing anggota jaringan diduga memiliki peran berbeda, mulai dari kedatangan tersangka ke Indonesia, penyediaan bahan baku, hingga proses produksi.
“Jaringan pembuatan lab clandestine etomidate ini, tersangka yang kita amankan itu tidak dapat bekerja sendiri. Jadi masing-masing ada perannya,” kata Vernal.
Dari hasil pemeriksaan, polisi menduga jaringan tersebut memiliki hubungan dengan seseorang berinisial AC yang berada di China dan kini diburu sebagai DPO.
Katimsus 2 Narkoba Polres Metro Jakarta Barat AKP Jimi Farid menjelaskan, CF diduga datang ke Indonesia atas arahan AC dengan tujuan memproduksi etomidate untuk mendapatkan keuntungan.
“Jadi di sana Saudara AC menjanjikan keuntungan-keuntungan yang menurut Saudara CF ini menjanjikan. Namun, belum sempat mendapatkan keuntungan tersebut, sudah kita amankan terlebih dahulu,” kata Jimi.
Penyidik menduga aktivitas produksi etomidate telah berlangsung sekitar dua bulan sebelum penggerebekan. CF tercatat dua kali bolak-balik China–Indonesia. Ia pertama kali datang pada Juli 2026, kembali ke China pada Agustus, lalu kembali lagi ke Indonesia pada September sebelum akhirnya diamankan.
Polisi kini berkoordinasi dengan Imigrasi, Bea Cukai, dan Kedutaan Besar China untuk menelusuri jalur masuk bahan maupun peralatan serta pihak lain yang diduga terlibat.
Konsisten Membongkar Jaringan Etomidate
Pengungkapan ini memperkuat rekam jejak Polres Metro Jakarta Barat dalam memberantas peredaran etomidate dalam bentuk cartridge vape. Sebelumnya, pada September 2026, Polres Metro Jakarta Barat juga mengungkap kasus peredaran cartridge etomidate di Kelapa Gading dan mengamankan 458 cartridge.
Pada periode yang sama, Polda Metro Jaya mengungkap kasus lain dengan menyita 518 cartridge etomidate dari dua lokasi di Jakarta Barat dan Serpong. Sementara Bareskrim Polri mengungkap kasus di kawasan Tanah Abang dengan total 735 cartridge yang diduga berisi etomidate.
Dengan terbongkarnya tempat produksi di PIK 2, penyidik Polres Metro Jakarta Barat tidak hanya mengejar pengedar di tingkat hilir, tetapi juga membongkar hulu jaringan: pihak yang diduga memasok bahan, mengatur produksi, membiayai jaringan, hingga mengendalikan distribusi dari luar negeri.
Nasriadi menegaskan penyidikan terus dikembangkan untuk memutus mata rantai peredaran etomidate yang dikemas menyerupai produk rokok elektrik.
“Kami masih mencari dari mana barang ini bisa masuk ke sini. Penyidikan terus kami kembangkan,” tegasnya.
Pengungkapan clandestine lab etomidate di PIK 2, penangkapan tersangka, penyitaan ribuan cartridge, serta pengamanan 40.539 butir obat berbahaya dalam Operasi Nila Jaya 2026 menjadi bukti nyata bahwa Polres Metro Jakarta Barat terus hadir dan bekerja memberantas peredaran narkotika serta obat berbahaya di wilayah hukumnya.
(Humas Polres Metro Jakarta Barat)