NAGEKEO,Nangaroro,NTT, Jurnal09.com – Di tengah suasana duka pascagempa yang mengguncang Pulau Flores, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, diwarnai aksi solidaritas kemanusiaan.
Dua hari setelah gempa tektonik bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026), warga Nangaroro tidak merayakan kemerdekaan dengan pesta rakyat. Perhatian justru tertuju pada upaya membantu masyarakat yang terdampak bencana.
Sebanyak 239 keluarga disebut menjadi kelompok yang paling terdampak di wilayah Nangaroro. Di tengah kondisi tersebut, sebuah posko bantuan didirikan di depan Gereja Paroki Santo Martinus Nangaroro pada Senin (17/8/2026).
Posko tersebut merupakan inisiatif tokoh nasional asal Nangaroro, Komjen Pol (Purn) Gories Mere, bersama pengusaha Valens Daki-Soo (VDS).
Berawal dari Pesan Singkat Sehari Setelah Gempa
Gerakan kemanusiaan itu bermula dari percakapan singkat antara Valens Daki-Soo dan Gories Mere sehari setelah gempa.
Valens menyampaikan kondisi warga melalui pesan kepada Gories pada Minggu malam (16/8/2026).
> “Om, kita perlu kasih perhatian untuk warga kita. Banyak yang susah.”
Gories kemudian merespons dengan menanyakan langkah yang dapat segera dilakukan. Dari komunikasi tersebut muncul gagasan untuk menyalurkan kebutuhan pokok kepada warga yang paling terdampak.
Sehari berselang, tepat pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, gagasan tersebut diwujudkan dengan mendirikan posko bantuan di Nangaroro.
Libatkan Pemerintah dan Relawan Lokal
Pendirian posko melibatkan berbagai unsur masyarakat setempat. Di antaranya Camat Nangaroro Agustinus Egho Wea, Lurah Aleksius Jata bersama stafnya Linda dan Since Lori, serta mantan Lurah Yosef Mosa.
Sejumlah anak muda Nangaroro juga turut bergerak sebagai relawan, antara lain Andi Dawi, Andi Abolla, Jois Mite dan Yemi Siga.
Valens mengatakan bantuan tersebut untuk sementara difokuskan kepada warga yang paling terdampak dan membutuhkan pertolongan di Nangaroro.
Menurut dia, pilihan tersebut bukan berarti daerah lain tidak membutuhkan perhatian. Namun, bantuan dinilai perlu dimulai dari masyarakat yang berada paling dekat dan kondisinya dapat langsung dilihat.
> “Menolong sesama yang menderita adalah panggilan nurani, kewajiban moral dan ekspresi kasih persaudaraan,” ujar Valens.
Ia mengaitkan semangat tersebut dengan motto episkopal Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden, yakni memelihara kasih persaudaraan.
“Teman sejati hadir dalam duka, bukan hanya waktu pesta,” katanya.
Bantuan untuk Daerah Lain Disiapkan
Valens mengaku menerima sejumlah pesan dari kerabat di luar Nangaroro maupun Kabupaten Nagekeo yang berharap wilayah mereka juga mendapatkan perhatian.
Ia mengatakan Gories Mere telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak di Jakarta untuk kemungkinan penyaluran bantuan pada tahap berikutnya ke daerah lain.
Valens juga menanggapi kritik agar kepedulian tidak hanya diarahkan kepada daerah asal mereka.
Menurutnya, selama ini Gories Mere, baik secara langsung maupun melalui dirinya, telah memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan sosial dan budaya komunitas dari sejumlah daerah NTT di Jakarta.
“Kali ini kita kasih perhatian kecil untuk daerah sendiri. Tentu, sambil upayakan untuk daerah lain,” tuturnya.
Camat: Posko Pertama di Nangaroro
Camat Nangaroro Agustinus Egho Wea menyampaikan apresiasi atas kepedulian tersebut.
Ia menyebut keberadaan posko bantuan menjadi dukungan berarti bagi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan setelah gempa.
“Atas nama warga saya sampaikan terima kasih banyak kepada Bapak Gories dan Pak VDS. Kami merasa sangat terbantu karena ini merupakan posko bantuan pertama di Kecamatan Nangaroro, di saat warga berada dalam kesulitan besar,” ujar Agustinus.
Bagi warga Nangaroro, momentum kemerdekaan tahun ini memiliki makna berbeda. Di tengah kondisi pascabencana, semangat kemerdekaan diwujudkan bukan melalui kemeriahan, melainkan melalui kepedulian dan gotong royong untuk membantu sesama.
(Rico Ray)