Home » Rupiah Tembus Rp 17.730 per Dolar AS, Pasar Abaikan Intervensi BI dan Soroti Pernyataan Prabowo

Rupiah Tembus Rp 17.730 per Dolar AS, Pasar Abaikan Intervensi BI dan Soroti Pernyataan Prabowo

Jakarta, Jurnal09.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah ke posisi terendah baru mendekati level Rp 17.730 pada perdagangan Selasa. Penurunan ini memperpanjang tren negatif mata uang Garuda selama empat sesi berturut-turut, di tengah meningkatnya tekanan pasar bersamaan dengan dimulainya pertemuan kebijakan dua hari Bank Indonesia (BI).

Merespons tekanan ini, Bank Indonesia diperkirakan akan mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5%. Jika terealisasi, ini akan menjadi kenaikan pertama setelah BI mempertahankan suku bunga sejak Oktober tahun lalu. Meski demikian, kekhawatiran pasar justru semakin mendalam terkait dampak yang lebih luas dari depresiasi rupiah terhadap perekonomian nasional.

Di tengah situasi makroekonomi yang memanas, debat publik justru semakin tajam setelah Presiden Prabowo Subianto menuai kritik atas pernyataannya. Presiden sempat menyarankan bahwa penduduk desa relatif aman dan terlindungi dari dampak depresiasi rupiah karena mereka tidak bertransaksi menggunakan dolar AS.

Pernyataan tersebut dinilai sebagian pihak kurang sensitif terhadap efek domino pelemahan mata uang yang berpotensi memicu kenaikan harga barang pokok akibat imported inflation (inflasi barang impor).

Sementara itu, pelaku pasar cenderung mengabaikan jaminan yang disampaikan oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo, di hadapan parlemen. Perry menegaskan bahwa bank sentral telah “meningkatkan dosis” intervensi di pasar valuta asing dan siap mengambil langkah-langkah lanjutan yang diperlukan. Namun, pengakuan Perry bahwa kondisi saat ini “tidak seperti biasanya” justru kian menebalkan sikap kehati-hatian para pedagang.

Sikap defensif investor juga dipicu oleh antisipasi terhadap rilis data neraca berjalan kuartal I (Q1) yang dijadwalkan akhir pekan ini. Sebelumnya, angka neraca berjalan pada kuartal IV (Q4) telah berayun ke area defisit, yang utamanya disebabkan oleh melebarnya kesenjangan (defisit) pada perdagangan minyak dan gas.

Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau bergerak stabil di pasar global. Investor internasional memilih wait-and-see menjelang rilis notulen rapat kebijakan moneter (risalah FOMC) dan data awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur serta jasa AS yang diprediksi akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya. Red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *